Monday, December 2, 2013

Ketika Calon Pendidik Tawuran


Hangat-hangat ini terdengar kabar adanya mahasiswa calon pendidik, atau biasa disebut calon guru melakukan tawuran seperti yang terjadi beberapa saat lalu. Tercatat pada senin sore (25/11) dua kelompok massa dari Fakultas Teknik dan Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Negeri Majassar (UNM) terlibat tawuran. Yang lebi mengenaskan dipandangan masyaakat awam umum lainnya hal ini terjadi pada hari PGRI.

Dengan melihat kejadian ini, juga kejadian di daerah lain, mungkin jika banyak terjadi pula, hanya saja tidak diketahui media, apakah tidak memalukan? Seorang calon pendidik generasi penerus bangsa melakukan aksi tawuran. Yang mana tawuran ini adalah salah satu pantangan bagi seorang pendidik. Seorang pendidik itu memiliki etika, dan dikatakan ahli dalam pendidikan, namun kenapa bersikap dan beraksi demikian?
Melihat fenomena yang ada, lalu salah siapa? Apakah salah pendidik sebelumnya? Sistemnya? Personalianya? Lingkungan sosialnya? Atau apanya? Kiranya banyak sekali factor yang menjadi penyebabnya.

Menilik hal yang telah terjadi, bisa saja kesalahan pada penddiknya terdahulu, yang mungkin ketika mengajar pernah menggunakan kekerasan, semisal menggebrak meja, memukul dan sebagainya. Hal ini bisa menjadi salah satu hal yang ditiru oleh peserta didiknya dikarenakan peserta didik lebih terkesan dengan cara pendidik itu memperlakukan peserta didiknya. Dalam hal ini bisa dari cara marah, cara mengajar atau gaya bahasa dalam penyampaian. Akan tetapi tidak sepenuhnya kesalahan dari pendidik itu sendiri.

Ketika menilik kepada sistemnya, kiranya sisdiknas (system pendidikan nasional) di Indonesia sangatlah bagus dan luar biasa. Bagaimana tidak? Bisa diperhatikan sisdiknas dalam UU RI No 20 Tahun 2003 yang berbunyi “ Pendidikan nasional berupaya mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.”

Begitu indah bukan sisdiknas kita? Kiranya sulit untuk bisa disalahkan, dan justru akan menuai banyak cerca dari khalayak insan pendidikan Indonesia. Lalu salah apanya?
Apakah bisa disalahkan personalianya? Bisa jadi iya, dikarenakan latar belakang dari setiap personilnya berbeda-beda, tingkat kestabilan emosinya juga berbeda-beda sehingga sangat berpengaruh kepada tindakan yang dilakukannya. Biasanya personil yang memiliki lingkungan kurang perhatian, pergaulan yang urakan jua seenaknya sendiri yang menyebabkan meletupnya gejolak emosi seorang pendidik atau calon pendidik.

Dengan demikian apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi kejadian yang demikian. Kiranya akan lebih bijak jika dimulai dari diri sendiri, karena factor utama adalah diri sendiri, pengendalian diri dalam hal pengendalian emosi supaya tidak membabi buta. Ketika seorang personalia memasuki dalam lingkungan social yang lebih tinggi, baiknya mengikuti kebiasaan-kebiasaan social bijak yang telah ada.

Seperti dalam pesan sesepuh jawa yang mengatakan “yen ana rembug ya dirembug, yen ana gawean ya ditandangi bebarengan” memiliki maksud dan tujuan berupa pesan moral kepada kawula muda dan masarakat umumnya jika ada sesuatu permasalahan yang memang bisa diselesaikan dengan berunding dengan baik, maka lakukanlah, jika diperlukan sebuah tindakan ya lakukanlah dengan bijak. Kiranya begitu yang lebih bijaksana. Semua tetap kembali pada diri masing-masing bagaimana membawa diri ke dalam kehidupan sosialnya.


No comments:

Post a Comment