Wednesday, October 14, 2020

Tuhan Memenuhi Kebutuhan, Bukan Keinginan

https://www.flickr.com/photos/abbyallhabassy/6311431605/

Tulisan ini, sebagai pengingat dan pelajaran bagi saya sendiri. Akan lebih indah jika tulisan yang tak seberapa ini, bermanfaat juga untuk pembaca. Bukan bermaksud mengeluh atas apa yang menimpa loh ya.

Berawal dari jatuhnya anak pertama saya (Lala) dari ayunan. Ayunan ini dibuatkan simbahnya (ibu saya) supaya cucunya tidak rebutan dengan ayunan tetangga. Dibuat pakai tali jemuran dan ban mobil bekas. Ban ini pemberian dari ortu mbak kos jaman dulu, kira-kira tahun 2004. Dulu sih untuk ayunan saya dan adik.

Lala  ini anak perempuan usia 4 tahun belum genap, tapi suka manjat-manjat, main ayunan sambil berdiri dan diputar-putar. Kadang malah seperti tiduran di ayunan. 

Tibalah sore itu, saat saya sedang memotong kain di dalam rumah, karena ada orderan tas untuk hajatan. Ibu saya dalam satu ruangan dengan saya, sambil memangku anak nomer dua saya (Mazaya). Sedangkan Lala asik bermain sendiri di luar dengan ayunannya. 

Tiba-tiba saja "Bruk... Huaaa huaaa huaaaa." Terdengar suara jatuh dan tangisan yang keras sekali. 

Langsung saja saya lari dan mendatangi Lala. Posisi sudah tengkurap, nangis tidak karuan. Dan jarak dari ayunan berada sekitar 2 meter dari tempatnya. Diminta bangun masih saja menangis. Paniklah saya. Ahirnya digendong, bawa masuk ke kamar. 

Selama di kamar hanya menangis saja, ditanya apa saja malah nangis. Hanya memegangi pundak sebelah kirinya. Kami pikir mungkin kesleo ya. Sampai ahirnya Babahe pulang kerja, diajak ngomong tambah nangis. Hanya mau diam kalau sama saya. 

Paginya, fikiran semakin ndak karuan. Apa di bawa saja ke rumah sakit ya? Fikir saya gitu. Tapi, kegoyahan menghampiri, nanti uang dari mana kalau harus opnam atau mungkin ada yang lebih buruk lagi.

Malamnya, saya dan suami nekat, bismillah ke rumah sakit. Langsung ke IGD supaya segera ditangani. Ini sih mungkin agak terlambat ya, karena bingung tadi, bagaimana biayanya. Ditambah lagi harus meninggalkan bayi yang hanya mau minum langsung dari saya. Sedangakan Lala tidak mau ke rumah sakit kalau tidak bersama saya.

Di ruang IGD, setelah dipegang dokter, Lala mau bercerita. Bagaimana kejadian jatuhnya dari ayunan. Ceritanya ayunn diputer sampai lilitan banyak, Lala naik di ayunan sambil berdiri. Tangannya terlepas saat pegangan ayunannya, terpentallah dan jatuh ke tanah (sudah paving block sih).

Setelah diakusi dengan dokter, ahirnya dirongsen saja, supaya tahu harus bagaimana dan seperti apa penanganannya. 

Tak lama hasil keluar, dan braakkkk... Rasanya seperti tubuh ini tidak bertulang. Lemas, lunglai, sedih ndak karuan. Ternyata Lala patah tulang di bagian bahu depan.

Dokter langsung segera meminta saya dan suami untuk membawa ke rumahsakit yang lebih besar, untuk operasi.

Duh, operasi? Uang dari mana? BPJS juga ndak punya. Kebayang kan, seberapa besar uang yang harus kami keluarkan? 

Setelah mencoba berdikir tenang, kami pulang, berdiskusi dengan simbahnya juga, bagaimana enaknya.

Hasil rembugan, saya dn suami diminta membawa Lala ke sangkal putung saja. Cari yang dekat. Karena saat periksa, juga harus bawa bayi, Lala ndak mau ke man-mana kalau tidak sama ibunya. Sedih nggak sih?

Dengan jalan alternatif, bagi kami biaya juga tetap lumayan menguras tenaga dan fikiran. Pertama datang 400.000, kontrol setiap minggunya 200.000. Apalagi barengan dengan imunisasi Maza yang lumayan juga, karena vaksin polio subsidi sedang kosong. 

Fikiran panik melanda, mbatin ini bagaimana, gaji suami yang UMR itu biasanya cukup untuk makan, kirim ke mertua. Uang dari mana untuk rutin memeriksakan Lala? 

Lalu apa yang saya lakukan?

Saya berusaha selalu berfikir positif dan menghilangkan rasa panik. Mengembalikan segala keluh kesah kepadaNya.

Alhamdulillahnya, ada satu dua pesanan undangan souvenir. Beberapa gamis juga. Lumayan dikumpulkan untuk kontrol hari minggu.

Minggu berikutnya, belum ada tanda-tanda uang datang. Mendekati hari periksa, tiba-tiba ada yang memberi uang, cukup untuk periksa.

Begitu sampai kurang lebih 2 bulan lamanya. Setiap minggu harus mengeluarkan 200.000. Bagi kami, kalau dipikir, uang segitu sungguh perjuangan. Demi kesembuhan anak, biarlah, itu juga menjadi pembelajaran saya sebagai orang tua untuk lebih pasrah sama Gusti. 

Dan setelah Lala sembuh, yaa belum ada uang lagi, kalau pengen jajan atau beli lauk yang enak, apalagi lihat baju anak dan bayi lucu-lucu. Yang penting kebutuhan anak terpenuhi dulu, kami sudah lega ❤️

Urusan nanti banyak saudara dan tetangga hajatan, semoga ada jalannya ❤️ yang penting ikhtiyar, tawakkal kepada Allah. 

Sangat terasa sekali pembelajaran kali ini. Bagaimana Gusti yang selalu mencukupi kebutuhan kita, bukan keinginan kita. Semoga kita semua selalu menjadi hambaNya yang pandai bersyukur dalam keadaan apapun. Alhamdulillahi rabbil 'aalamiin. 

Sunday, March 8, 2020

Rasanya Entah

Menulis adalah sebuah kegiatan yang mengasah ketrampilan tangan, otak dan hati untuk sinkron dalam sekali kerja. Kegiatan ini juga sangat menarik bagi mereka yang suka menuangkan rasa dengan pena, atau bait kata di sosial media. Bahkan dengan menulis, bisa.menjadi sumber dana untuk keluarga. Karena dari tulisan-tulisan itu menghasilkan mega karya yang indah.

Dulu, rasanya seneng banget bisa menulis dengan lancar tanpa jeda. Ide terus mengalir deras, dan emosi tersalurkan dengan cadas. Namun seiring berjaannya waktu, entah aku yang malas atau bagaimana. Kegiatan menulis seolah beban. Rasanya disuruh gendong beban berat, menaiki gunung dengan jalan yang terjal dan licin. Lebay yaaah... Memang... 😅

Rasanya ingin sekali mendapatkan mood booster yang wow, supaya semangat menulis ini kembali terpacu. Merasa bersalah deh, jarang menghasilkan karya, bahkan alpa. Duh, kasihan deh aku.

Kalo ingat jaman rajin nulis, sekali duduk bisa menghasilkan satu cerpen dan beberapa puisi. Sekarang kok baru satu pragraf, hapus, salah, gak jadi. Entahlah. 

Rasanya seperti seorang yang melakukan salah besar dan harus bertaubat. Bertaubat pun harus menjemput hidayahnya itu. Nih kudi menjemput hidayah semangat menulisnya. 

Padahal juga sudah berusaha ikut komunitas yang ada menulisnya. Paling tidak menulis review dari sebuah buku lah yaaa.... Belum yang kelas menulis sehari harus satu cerpen dan sejenisnya.

Dengan tulisan sedikit ini, entah ungkapan rasa atau kelesalan saja, bisa menjadi sebab semangat lagi untuk menulis. Oh iyaa, dan perlu diketahui yaa, tulisan-tulisanku itu kebanyakan lahir dari hati, kalo enak dibaca, kalau nggak rasanya cuma asal nulis aja 😅 dasar.

Atau, bagaimana pendapat anda membaca tulisan saya ini? Ruwet yaa? Emang, nih juga nulis sambil pikiran ruwet alias bundet 😅 semoga lekas menjemput hidayah dengan benar.