Selasa, 05 Juni 2012

Hari yang Kurang Baik untuk Menikah Menurut Islam dan Jawa

            I.                   PENDAHULUAN
Dalam kehidupan orang jawa, segala sesuatunya berdasarkan tatanan yang ada. Mengikuti jejak leluhurnya dalam segala hal kehidupannya. Diantaranya adalah tentang hari-hari yang baik dan buruk untuk menentukan hari disaat akan ada hajat, terlebih dalam hal pernikahan.
Tak hanya pemikiran jawa saja yang menggunakan prinsip penghitungan hari untuk menentukan hari dalam peringatan tertentu. Di dalam agama islam juga dianjurkan untuk mengikuti tatanan yang telah ada demi kebaikan dan kelancaran berlangsungnya acara tersebut. Dengan adanya kelancaran acara tersebut, diharapkan pula ke depannya juga tetap lancar saja, sehingga dapat tercapai kehidupan yang baik.

Adapun yang lebih spesifik dalam hal ini yakni kesamaan antara penentuan hari baik dan buruk dalam sosial masyarakat jawa dengan islam. Dalam hal ini memberikan gambaran kapan-kapan saja waktu yang sebaiknya dihindari untuk melangsungkan pernikahan menurut pemikiran jawa dan islam.
Mengapa jawa dan islam, dikarenakan kedua kubu ini memiliki banyak kesamaan dalam hal pemikiran-pemikiran dan hakikatnya. Sehingga tidak jauh berbeda dalam hal perhitungan kapan-kapan saja waktu yang baik dan buruk itu, khususnya di sini dalam hal menentukan hari baik buruk dalam pernikahan.
Dengan ini mengharapkan dapat diambilnya pengetahuan tentang relevansi antara budaya islam dan jawa dalam menentukan hari baik ataupun buruk untuk menentukan hari pernikahan. Keduanya sama baik karena mengharapkan adanya kebaikan dari jalan yang diambil.


II.                KAJIAN TEORI
Perkawinan dengan pernikahan merupakan salah satu fase kehidupan manusia dari masa remaja ke dalam masa berkeluarga. Peristiwa ini sangatlah penting dalam proses hidup manusia di dunia ini. Sehingga perkawinan tersebut juga disebut sebagai taraf kehidupan baru bagi manusia.
Dalam pandangan hidup orang jawa dan islam, pernikahan adalah sesuatu hal yang sakral, sehingga tidak sembarangan dalam pelaksanaannya. Selain itu juga diharapkan pelaksanaannya hanya sekali seumur hidupnya. Kesakralannya tersebut dalam jawa dan islam dalam pemikirannya menjadi sangat selektif sekali dalam penentuan harinya, dengan harapan jika pelaksanaanya pada hari baik, maka akan baik untuk seterusnya.
Di dalam kitab Betaljemur Adammkana karya R.Soemodidjojo juga disebutkan bagaimana dan kapan saja untuk menentukan hari baik dalam pernikahan. Hal ini juga tak bedanya dengan islam. Di dalam kitab Qurratul ‘Uyun karya Asy-Syekh Al-Imam Abu Muhammad juga dipaparkan beberapa hari dan bulan di mana baik dan kurang baik untuk menentukan hari pernikahan.
Kalau di dalam pemikiran jawa berasal dari ilmu titen, namun dalam islam ada yang memang hal tersebut disebutkan dalam hadits, sehingga umat islam menaati hal tersebut. Hal tersebut karena mereka yakin bahwa apa yang telah menjadi ucapan Rasulullah adalah benar.
Di dalam ngilmu titen, dahulu para nenek moyang menggunakan cara dengan mengenali kejadian-kejadian buruk yang berhubungan dengan hari, tanggal, bulan dan tahun.


III.             PEMBAHASAN
Dalam pandangan hidup  masyarakat jawa, memilih hari baik untuk melaksanakan pernikahan adalah sangat penting. Karena bagi mereka, ketika memilih hari baik tersebut, diharapkan kehidupan setelah pernikahan juga berlangsung dengan baik. Untuk memilih hari baik (dan pada dasarnya semua hari adalah baik, sehinggapengertian memiih hari baik di sini lebih kepada kesesuaian waktu dengan pengguna waktu) pada upacara perkawinan, dengan menggunakan Kalender Jawa Sultan Agungan, pertama kali yang dilakukan adalah menghindari hari yang tidak baik, diantaranya adalah :
A.    Hari Naas Keluarga
1.      Hari dan pasaran meninggalnya (geblage) orang tua dari calon pengantin.
2.      Jika orangtua masih hidup semua, maka yang dihindari adalah hari wafatnya (geblage) kakek nenek dari orang tua calon penganten.
3.      Hari dan pasaran meninggalnya saudara kandung calon pengantin apabila ada.

B.     Hari tidak Baik di Dalam Bulan
1.      Bulan jumadilakir, rejeb dan ruwah hari rabu, kamis dan jum’at
2.      Bulan puasa, syawal, dan dulkaidah hari jum’at, sabtu dan minggu
3.      Bulan besar, sura dan sapar, hari senin, selasa, sabtu dan minggu
4.      Bulan mulud, bakdamulut dan jumadilawal hari senin, selasa, rabu dan kamis

C.    Tanggal tidak Baik di Dalam Bulan 
1.      Bulan sura tanggal 6, 11 dan 18
2.      Bulan sapar tanggal 1, 10 dan 20
3.      Bulan mulud tanggal 1, 8, 10, 15 dan 20
4.      Bulan bakdamulud tanggal 10, 12, 20, dan 28
5.      Bulan jumadilawal tanggal 1, 10, 11 dan 28
6.      Bulan jumadilakhir tanggal 10, 14 dan 18
7.      Bulan rejeb tanggal 2, 13, 14, 18 dan 27
8.      Bulan ruwah tanggal 4, 12, 13, 26, dan 28
9.      Bulan pasa tanggal 7, 9, 20 dan 24
10.  Bulan syawal tanggal 2, 10 dan 20
11.  Bulan dulkaidah tanggal 2, 9, 13, 22 dan 28
12.  Bulan besar tanggal 6, 10, 12 dan 20
Sedangkan di dalam kitab Qurratul ‘uyun disebutkan bahwasannya menikah yang baik adalah di bulan syawal dan disunahkan dibulan romadhon seperti hadits riwayat sayyidah ‘aisyah r.a yang artinya :
“rasulullah saw menikah dengan saya pada bulan syawal dan memasuki nikah juga pada bulan syawal, maka siapakah istri-istri rasulullah yang lebih utama bagi beliau daripada saya? Kemudian sayyidah ‘aisyah menyunahkan memasuki njikah dengan wanita-wanita pada bulan syawal. Dan rasulullah saw menyunahkan nikah pada bulan ramadhan.”
Dan juga dalam tiap bulan untuk meninggalkan hari rabu di akhirnya. Demikian juga dengan tanggal 3, 5, 13, 16, 21, 24 dan 25 dalam tiap bulannya, hal ini terdapat pula dalam jami’us shaghir. Teruntuk hari rabu mengapa tidak disarankan, karena hari tersebut terhitung hari apes.
Selain itu juga disarankan untuk menghindari hari sabtu, karena hari sabtu merupakan hari besar orang yahudi.
Melihat dari sedikit keterangan tersebut diatas nampak adanya keselarasan antara islam dan petung jawa dalam perhitugan hari yag sebaiknya dihindari apabila hendak melangsungkan acara pernikahan. Ini merupakan salah satu bukti kehati-hatian dalam mempersiapkan sesuatu supaya hasilnya tidak mengecewakan. Dan harapannya dengan menghindari hal-hal yang disarankan untuk dihindari tersebut, akan baik untuk seterusnya.


IV.             PENUTUP
Dari berbagai paparan yang ada, dapat diambil kesimpulan bahwa adanya beberapa kesamaan hari yang sebainya dihindari untuk melaksanakan acara besar khususnya pernikahan. Dari kedua kitab tersebut yang banyak kesamaannya adalah himbauan untuk menjauhi hari rabu dan sabtuserta tanggal 13.
Dalam hal ini, orang islam di jawa, memang paling kuat menghindari hal yang sama dengan hitungan jawa tersebut, yakni menjauhi hari rabu dan sabtu serta tanggal 13, dalam prakteknya di masyarakat-pun begitu.
Meskipun begitu, masih banyaknya hal yang belum digali dalam pernyataan ini. Harapannya ke depan dapat menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dalam mengkaji hari dan tanggal yang sebaiknya dihindari untuk melaksanakan acara pernikahan antara petung jawa dan pendapat islam.
Layaknya gading tiada yang tak retak, seperti halnya tulisan ini tak luput dari salah. Kritik dan saran yang membangun sangat kami nantikan.

Bagi anda yang mencari pernik jogja atau busana muslim dan anak dengan harga terjangkau secara grosir, kunjungi kami di  Grosir Muslim Jogja  

Bisnis syar'i bersama Ustadz Yusuf Mansur klik di sini

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Sunarto. 1994. Berbulan Madu menurut Syariat Islam (Qurratul ‘Uyun) As-Syekh Al-Imam Abu Muhammad. Surabaya: Al-Hidayah
Kuswa Endah, 2009.Pranata Sosial dalam Masyarakat Jawa.Yogyakarta : Grafika Indah

15 komentar:

  1. sangat bermanfaat, terimakasih mbak. mampir juga ke blog saya ya :)

    BalasHapus
  2. apkh smw itu ad ajaran'y dari nabi muhammad saw. tntang bgmn mnentukn hari baik prnikahan??? Klw ad tolong d'jelaskn dalil/hadits yg brkaitn,,,,trims,-

    BalasHapus
  3. di dalam artikel tersebut sudah ada haditsnya, dan artikel ini sudah dinilai oleh seorang putra kiyai yg bergelut dalam bidang hadits, menurut beliau ini sudah bagus, hanya saja hadits masih perlu ditinjau lagi. namun hadits tersebut diambil dari salah satu kitab yang membahas khusus tentang pernikahan, yakni qurratul 'uyun

    BalasHapus
  4. saya mau menikah yg rencananya pada hari kamis tanggal 6 des 2012,hari dan tgl saya dapat dari org tua (yg dituakan),namun jusru dihari tersebut (kamis)adlah hari wafat'a ayah kami (baik saya maupun calon istri saya).mohon pencerahan
    dede wahyudi ;14-04-1979 sabtu wage
    lalita ;13-12-1991 kamis kliwon

    BalasHapus
  5. dalam hal ini saya tidak menghitung dan lainnya, semua hari pada dasarnya baik, artikel tersebut diatas sebagai wawasan yang tidak mutlak dan pasti, karena semua diserahkan kembali padaNya. saran saya sebelum hari H semua ziarah ke makam, baik jnengan maunpun calon istri

    BalasHapus
  6. assalam....
    pesan saya jangan sampai kita menjadi syirik terhadap kepercayaan hari baik dan buruk.. itu dosa besar saudaraku... ingatlah semua hari adalah ciptaan ALLAH SWT.. untuk itu memohonlah kepadanya agar mendapat ridhonya... jadilah orang yang selalu bertawakal kepada ALLAH SWT dan jauhi sifat2 yang dapat mengarah ke sifat syirik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. wassalamu'alaikum, iya memang... ini hanya wawasan saja, karena banyak yang menyalahartikan maksud penghitungan-penghitungan tersebut...., semua itu baik buruk juga tergantung kepada yang menjalani dan juga dariNya

      Hapus
  7. Semua hari adalah baik.
    Tidak ada batasan waktu untuk pernikahan,
    tidak usah membingungkan masyarakat. hidup sudah susah jangan dibuat tambah susah. :)

    BalasHapus
  8. memang semua hari adalah baik, sebatas meluruskan pendapat orang-orang yang keliru, orang yang mengetahui hukum, dia akan fleksibel dan tidak terkekang,keyakinan tetap kepada Allah SWT, tiada yang dapat menembus ilmuNya... semua ilmu insyaAllah ada hikmahnya wallahua'lam bisshowab

    al-faqir illa robbiiy

    BalasHapus
  9. saya 14 dan calon saya ketmu 7.apakah itu baik ato jelek..??
    Trus mau nikah buln 4 tngl 26 thun 2014.apa itu baik ato jelek tlong penjelasnya...??

    BalasHapus